Powered By Blogger

Cari Blog Ini

Selasa, 19 Juli 2011


OLEH : EKA KUSWILWATIKTANTO, SP
DI SAMPAIKAN DALAM
ACARA PELATIHAN DAN SUPERVISI ( KAMISAN )
TANGGAL : 14 JULI 2011

I.   PENDAHULUAN

a. Latar Belakang
Melimpahnya limbah yang dihasilkan oleh salah satu  perkebunan yang ada di Indonesia adalah tangkai daun dari tanaman tembakau. Limbah tersebut dihasilkan dari sisa pemanenan daun tembakau yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan rokok. Melimpahnya limbah yang tidak termanfaatkan sangat erat kaitannya dengan potensi pencemaran lingkungan sehingga perlu dicari solusi dalam penanganan limbah tersebut. Tembakau merupakan bahan dasar dalam pembuatan rokok karena kandungan nikotinnya dapat  mencapai 0,3 sampai 5% bobot kering tembakau yang berasal dari hasil  biosintesis  di akar dan diakumulasikan di daun (wikipedia, 2011). Selama ini, pemanfaatan tanaman tembakau hanya pada daun,  akan tetapi tangkai daunnya belum dimanfaatkan, agar dapat menghasilkan keuntungan secara ekonomi. Ekstrak  dari tanaman tembakau, seperti kayu, kulit, daun,  bunga, buah atau biji, diyakini berpotensi mencegah pertumbuhan jamur ataupun menolak kehadiran serangga perusak terutama pada tanaman kehutanan. Limbah tangkai daun tembakau yang jumlahnya melimpah berpotensi untuk dimanfaatkan  menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat. Kandungan nikotin yang juga terdapat pada batang tembakau dapat diekstraksi dan dimanfaatkan sebagai sumber insektisida. Nikotin diyakini dapat menjadi racun syaraf yang potensial dan digunakan sebagai bahan baku berbagai jenis insektisida. Contoh serangga yang dapat diatasi dengan menggunakan insektisida dari nikotin adalah Afid. Aiid biasanya terdapat  pada  daun dan  tangkai  bunga.  Kutu tersebut  menyerap sari makanan sehingga menghambat pertumbuhan tanaman dan membuka peluang masuknya bibit penyakit seperti jamur dan bakteri.

Rabu, 02 Maret 2011

Waspada Serangan Hama Wereng Coklat



Wereng Coklat
Serangga wereng coklat berukuran kecil, panjang 0,1-0,4 cm. Wereng coklat bersayap panjang dan wereng punggung putih berkembang ketika makanan tidak tersedia atau terdapat dalam jumlah terbatas. Dewasa bersayap panjang dapat menyebar sampai beratus kilometer.

Wereng coklat dapat menyebabkan daun berubah kuning oranye sebelum menjadi coklat dan mati. Dalam keadaan populasi wereng tinggi dan varietas yang ditanam rentan wereng coklat dapat mengakibatkan tanaman seperti terbakar atau “hopperburn”.

Rabu, 09 Februari 2011

PEMANFAATAN TANAMAN KECIPIR SEBAGAI PEMENUHAN GIZI

I.       PENDAHULUAN

Meski sering dianggap sepele, tanaman satu ini ternyata punya segudang menfaat. Selain memperindah halaman, kandungan gizinya pun tak kalah hebat.
                                    Maksud
Maksud dari penulisan ini yaitu ingin memperkenalkan keistimewaan tanaman kecipir yang begitu banyak manfatnya bagi kita khususnya bagi petani dan keluarganya.
                                    Tujuan
Tujuan dari penulisan ini agar kita dapat mensosialisasi dan memperkenalkan secara baik tanaman kecipir ini suapaya dimanfaatkan secara optimal bagi petani untuk pemenuhan gizi keluarga, pengobatan, keindahan dan bahkan pendapatannya.

Selasa, 08 Februari 2011

Pengendalian Penyakit Busuk Pelepah pada Tanaman Jagung

            PENDAHULUAN
Di beberapa negara Asia, termasuk Indonesia, jagung merupakan tanaman serealia terpenting kedua setelah padi. Walaupun pada prinsipnya jagung ditanam untuk keperluan pakan, jagung juga penting sebagai makanan pokok. Pada masa pertumbuhannya, semua bagian tanaman jagung tidak lepas dari serangan organisme pengganggu, termasuk penyakit. Salah satu penyakit yang beberapa tahun terakhir menjadi ancaman pada tanaman jagung adalah penyakit busuk pelepah yang disebabkan oleh cendawan Rhizoctonia solani Kuhn

STRATEGI PENGENDALIAN HAMA TERPADU TANAMAN PADI DALAM PERSPEKTIF PRAKTEK PERTANIAN YANG BAIK

STRATEGI PENGENDALIAN HAMA TERPADU TANAMAN PADI DALAM PERSPEKTIF PRAKTEK PERTANIAN YANG BAIK
(GOOD AGRICULTURAL PRACTICES)

Oleh :
EKA KUSWILWATIKTANTO, SP


PENDAHULUAN
Sampai saat ini hama masih menjadi kendala bagi petani. Hampir di setiap musim terjadi ledakan hama pada pertanaman padi. Hama utama tanaman padi antara lain adalah tikus, penggerek batang padi, dan wereng coklat. Beberapa hama lainnya yang berpotensi merusak pertanaman padi adalah wereng punggung putih, wereng hijau, lembing batu, ulat grayak, pelipat daun, dan walang sangit. Serangan hama tikus di Indonesia mencapai puncaknya pada tahun 1998, dengan luas serangan 159.000 ha dan intensitas serangan 24,8%. Penggerek batang merupakan serangga hama yang terdapat pada semua ekosistem padi dan menyerang tanaman sejak di persemaian hingga pertanaman. Pada tahun 1990, luas serangan penggerek batang padi putih (Scirpophaga innotata) pada pertanaman padi mencapai 135.000 ha (Biro Pusat Statistik 1991).
Wereng coklat (Nilaparvata lugens) merupakan hama yang sangat merugikan perpadian di Indonesia, dengan serangannya sampai puso pada areal yang luas dalam waktu yang singkat. Hama ini mudah beradaptasi membentuk biotipe baru dan dapat mentransfer virus kerdil hampa dan virus kerdil rumput yang daya rusaknya lebih hebat dari hama wereng coklat itu sendiri. Pada periode 1970-1980, luas serangan wereng coklat mencapai 2,5 juta ha (Baehaki 1986). Dalam periode 1980-1990, luas serangannya menurun menjadi 50.000 ha, dan dalam periode 1990-2000 meningkat hingga sekitar 200.000 ha (Baehaki 1999). Pada 2005 serangan wereng coklat terpusat di Jawa dengan menyerang 56.832 ha pertanaman padi. Berdasarkan penelaahan terhadap serangan organisme pengganggu tanaman sejak 1985-1995, daerah hama dan penyakit pada persawahan di Indonesia dapat dibagi ke dalam single dangerous pest area (SDPA), disebabkan oleh tungro atau wereng coklat saja; double dangerous pest areas (DDPA), disebabkan oleh tungro dan wereng coklat atau oleh wereng coklat dan penggerek; triple dangerous pest areas (TDPA), disebabkan wereng coklat, penggerek, dan tungro, bahkan akan berkembang ke quartet dangerous pest area (QDPA) (Baehaki dan Hasa-nuddin 1995).
PEMBAHASAN
Teknologi yang dikembangkan untuk mengendalikan hama dan pertanaman padi didasarkan kepada konsep pengendalian hama terpadu (PHT) dengan mempertimbangkanekosistem, stabilitas, dan kesinambungan produksi sesuai dengan tuntutan praktek pertanian yang baik (Good Agricultural Practices, GAP). Meningkatnya kesadaran masyarakat akan lingkungan hidup telah mendorong perlunya memprioritaskan aspek kelestarian lingkungan dan faktor keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dalam pengambilan keputusan ekonomi (Departemen Pertanian 2003).
A.  Pemahaman Tentang PHT
Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, PHT tidak lagi dipandang sebagai teknologi, tetapi telah menjadi suatu konsep dalam penyelesaian masalah lapangan (Kenmore 1996). Waage (1996) menggolongkan konsep PHT kedalam dua kelompok, yaitu konsep PHT teknologi dan PHT ekologi. Konsep PHT teknologi merupakan pengembangan lebih lanjut dari konsep awal yang dicetuskan oleh Stern et al. (1959), yang kemudian dikembangkan oleh para ahli melalui agenda Earth Summit ke-21 di Rio de Janeiro pada tahun 1992 dan FAO. Tujuan dari PHT teknologi adalah untuk membatasi penggunaan insektisida sintetis dengan memperkenalkan konsep ambang ekonomi sebagai dasar penetapan pengendalian hama. Pendekatan ini mendorong penggantian pestisida kimia dengan teknologi pengendalian alternatif, yang lebih banyak memanfaatkan bahan dan metode hayati, termasuk musuh alami, pestisida hayati, dan feromon. Dengan cara ini, dampak negatif penggunaan pestisida terhadap kesehatan dan lingkungan dapat dikurangi (Untung 2000). Konsep PHT ekologi berangkat dariperkembangan dan penerapan PHT dalam sistem pertanian di tempat tertentu. Dalamhal ini, pengendalian hama didasarkan pada pengetahuan dan informasi tenta ngdinamika populasi hama dan musuh alamiserta keseimbangan ekosistem.
Berbeda dengan konsep PHT teknologi yang masih menerima teknik pengendalian hama secara kimiawi berdasarkan ambang ekonomi, konsep PHT ekologi cenderung menolak pengendalian hama dengan cara kimiawi. Dalam menyikapi dua konsep PHT ini, kita harus pandai memadukannya karenamasing-masing konsep mempunyai kelebihan dan kekurangan. Hal ini disebabkan bila dua konsep tersebut diterapkan tidak dapat berlaku umum.

B.  Sejarah dan Perkembangan PHT
Upaya peningkatan produksi padi secara nasional sudah dimulai sejak 1969 melalui Program Bimas Gotong Royong, dengan menerapkan teknologi panca usaha secara parsial berupa varietas unggul IR5 dan IR8, pemupukan, dan penyemprotan hama dari udara. Inovasi ini berhasil meningkatkan produksi beras menjadi 12,25 juta ton pada tahun 1969 dari 11,67 juta ton pada tahun 1968. Pada tahun 1970 diterapkan panca usaha lengkap dengan menambah komponen teknologi pengairan sehingga produksi padi terus meningkat dengan makin meluasnya areal pertanaman padi ajaib IR5 dan IR8 (Satari 1983). Penerapan konsep PHT secara seksama dimulai pada tahun 1976 dan sejak tahun 1989 dikembangkan program PHT. Program tersebut telah membawa Indonesia diakui oleh dunia internasional berhasil mengembangkan PHT. Dukungan politik bagi pengembangan PHT secara luas dapat dilihat dari Instruksi Presiden No.3 tahun 1986 yang melarang 57 formulasi insektisida pada tanaman padi (Untung 2000). Keberhasilan Indonesia dalam mengembangkan PHT tentu tidak terlepas dari peran aktif berbagai pihak, termasuk petani sendiri. Dalam periode 1989-1999 melalui program Sekolah Lapang PHT (SLPHT) Departemen Pertanian berhasil melatih lebih dari satu juta petani, khususnya untuk tanaman padi dan tanaman pangan lainnya. Hal ini tentu penting artinya dalam meningkatkan kesejahteraan petani melalui PHT dalam praktek pertanian yang baik.
FILOSOFI DAN TAKTIK PHT
Filosofi pengendalian hama menyangkut tiga dasar pokok pengendalian perangkat lunak (soft control), satu dasar pokok pengendalian perangkat keras (hard control), dan lintasan kritis (critical path) (Baehaki 1992). Tiga dasar pokok pengendalian dengan perangkat lunak adalah kultur teknis, varietas unggul, dan musuh alami. Satu dasar pokok perangkat keras adalah pengendalian langsung dengan membunuh hama berdasar nilai ambang ekonomi yang merupakan lintasan kritis pemandu pengendalian perangkat keras. Dasar filosofi tersebut kemudian dijabarkan dalam taktik-taktik pengendalian yang disesuaikan dengan masalahnya. Taktik pengendalian dengan tanaman inang tahan paling banyak digunakan. Keuntungan penggunaan tanaman inang tahan dalam pengendalian hama adalah bersifat permanen dalam beberapa hal atau persisten untuk jangka waktu yang lama, kompatibel dengan taktik atau metode pengendalian lainnya, selaras dengan sistem ekologi dan lingkungan, selaras dengan upaya peningkatan produksi secara ekonomi, aman, efektif, dan mudah diadopsi (Anonymous 2002a).
Taktik kultur teknis (cultural control atau ecological management) adalah taktik memanipulasi lingkungan untuk membuat ketidakcocokan hama pada suatu lingkungan dengan cara mengganggu siklus reproduktif, mengeliminasi makanan, dan membuat lingkungan lebih cocok untuk perkembangan musuh alami. Walaupun sudah tergolong tua, metode kultur teknis masih efektif menekan tingkat serangan hama dan diterima luas dalam implementasi teknologi PHT. Tujuan akhir dari taktik kultur teknis adalah menemukan link yang lemah dari siklus musiman hama sehingga hama tidak berkembang (Anonymous 2002b). Taktik pengendalian hayati sebagai isu lingkungan berskala internasional mempunyai keunggulan yaitu dapat bersifat permanen dalam mempertahankan populasi hama pada tingkat yang aman, tidak mencemari lingkungan, ekonomis, dan kompatibel dengan teknik pengendalian lainnya. Namun demikian, teknik pengendalian hayati dalam implementasinya tidak dapat mengatasi setiap masalah hama (Anonymous 2002c). Taktik pengendalian yang banyak dipakai saat ini adalah penggunaan insektisida manakala usaha dengan taktik yang telah disebutkan di atas tidak berhasil. Oleh karena itu, insektisida kimia tampaknya masih diperlukan meskipun penggunaannya harus dibatasi (Anonymous 2002d).

KETERKAITAN PHT DENGAN PRAKTEK PERTANIAN YANG BAIK PHT dalam Konteks Produksi Padi
Luas panen padi pada tahun 2003 tercatat 11,48 juta hektar dan produksi padi pada tahun tersebut mencapai 52,08 juta ton, meningkat 1,14% dibanding tahun 2002 (51,49 juta ton). Kenaikan produksi merupakan dampak dari peningkatan produktivitas padi, dari 4,47 t/ha pada tahun 2002 menjadi 4,52 t/ha pada tahun 2003. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan teknologi, termasuk pengendalian hama dan penyakit, memegang peranan penting. Dengan asumsi tidak ada terobosan teknologi maka produksi padi pada tahun 2020 diproyeksikan 57,4 juta ton. Sementara itu jumlah penduduk Indonesia pada tahun yang sama diperkirakan 262 juta jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk 1,27%/ tahun. Apabila konsumsi beras per kapita masih tetap 134 kg/tahun maka kebutuhan beras pada tahun 2020 mencapai 35,1 juta ton atau setara dengan 65,9 juta ton gabah kering giling (GKG). Kalau produksi padi tidak meningkat berarti pada tahun 2020 terjadi kekurangan beras 4,5 juta ton atau setara dengan 8,5 juta ton GKG (Budianto 2002). Untuk mengatasi kekurangan pangan perlu adanya terobosan peningkatan produksi padi. Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa produktivitas padi masih dapat ditingkatkan melalui implementasi program PHT. Dalam praktek PHT, hasil padi petani di Karawang pada MK 1995 masih meningkat hingga 37% d engan penanamanvarietas tahan hama wereng dan meningkat 46,3% untuk varietas tidak tahan (Baehaki et al. 1996).

PHT Mendukung Praktek Pertanian yang Baik
Aspek keselamatan, kesehatan, dan lingkungan pada keseluruhan proses produksi sampai pemasaran dinilai dengan International Standardization Organization (ISO) yang dikenal dengan pendekatan sistem mutu dan keamanan pangan, termasuk di dalamnya Sistem Manajemen ISO 9000 tentang Manajemen Mutu, ISO 14000 tentang Manajemen Lingkungan, dan Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) tentang Sistem Manajemen Keamanan Pangan. Produk yang berkualitas harus memiliki empat kriteria yaitu: (1) memenuhi sifat keindraan (sensory properties) yang meliputi rasa, penampilan, bau, dan warna; (2) memenuhi nilai nutrisi (nutritional value) yang menyangkut isi nutrisi, vitamin, dan tidak terdapat hal yang
tidak diinginkan seperti zat yang menimbulkan alergi; (3) menenuhi kualitas kesehatan (hygienic quality) yang menyangkut kebersihan, kesegaran, tidak ada serangga, tidak menjijikkan; dan (4) memenuhi aspek keamanan pangan (food safety) yang menyangkut tidak adanya mikroorganisme penyebab penyakit, tidak berisi zat toksik seperti pestisida, logam berat, mikotoksin, dan tidak ada tipuan (Frost 2001).
GAP dapat diaplikasikan dalam rentang waktu dan daerah yang luas terhadap sistem pertanian dengan skala yang berbeda. GAP digunakan dalam sistem pertanian berkelanjutan yang mencakup PHT, pengelolaan hara terpadu, pengelolaan gulma terpadu, pengelolaan irigasi terpadu, dan pemeliharaan (conservation) lahan pertanian. Penerapan PHT diperlukandalam sistem produksi pertanian berkelanjutan. Oleh karena itu, GAP harus memiliki empat prinsip utama:
1.       Penghematan dan ketepatan produksi untuk ketahanan pangan (food security), keamanan pangan (food safety), dan pangan bergizi (food quality).
2.       Berkelanjutan dan bersifat menambah (enhance) sumber daya alam.
3.       Pemeliharaan kelangsungan usaha pertanian (farming enterprise) dan mendukung kehidupan yang berkelanjutan(sustainable livelihoods).
4.       Kelayakan dengan budaya dan kebutuhan suatu masyarakat (socialdemands).
Aspek yang akan disentuh oleh elemen GAP di bidang “perhamaan” adalah proteksi tanaman. Hal ini membutuhkan strategi pengelolaan risiko, yang mencakup penggunaan tanaman tahan hama dan penyakit, rotasi tanaman pangan dengan pakan ternak, ledakan penyakit pada tanaman
peka, dan penggunaan bahan kimia seminimal mungkin untuk mengendalikan gulma, hama, dan penyakit dengan mengikuti konsep PHT. GAP akan menjangkau beberapa aktivitas yang berkaitan dengan pengendalian hama sebagai berikut:
1.       Penggunaan varietas tahan dalam proses pelepasan beruntun (sequencetial),vasosiasi, dan kultur teknis untuk mencegah perkembangan hamadan penyakit.
2.       Pemeliharaan keseimbangan biologi antara hama dan penyakit dengan musuh alami.
3.       Adopsi praktek pengendalian menggunakan bahan organik bila memungkinkan.
4.       Penggunaan teknik pendugaan hama dan penyakit bila telah tersedia.
5.       Pengkajian semua metode yang memungkinkan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, terhadap sistem produksi dan implikasinya terhadap lingkungan guna meminimalkan pemakaian bahan kimia pertanian, khususnya dalam meningkatkan adopsi teknologi PHT.
6.       Penyimpanan dan penggunaan bahan kimia yang sesuai dan teregistrasi untuk individu tanaman serta waktu, dan interval penggunaan sebelum panen.
7.       Pengamanan penyimpanan bahan kimia dan hanya digunakan oleh personel yang sudah terlatih dan memiliki pengetahuan (knowledgeable persons).
8.       Pengamanan peralatan yang digunakan untuk mengatasi bahan kimia dengan meningkatkan keamanan dan pemeliharaan standar.
9.       Pemeliharaan catatan secara akurat terhadap insektisida yang dipakai.
Oleh karena itu, untuk menghasilkan produk yang baik harus mengikuti standar GAP yang dalam proses produksinya mengikuti kaidah PHT. Sebagai acuan yang dapat dipakai adalah EUREPGAP untuk sayuran dan buah-buahan. Masalah perlindungan tanaman tercantum pada
pasal 8 yang terbagi ke dalam 13 subpasal (Pusat Standardisasi dan Akreditasi 2003).

Hubungan PHT dengan Pertanian Berkelanjutan
Sistem pertanian berkelanjutan merupakan tujuan jangka panjang PHT dengan sasaran pencapaian produksi tinggi, produkberkualitas, perlindungan dan peningkatan kemampuan tanah, air, dan sumber daya lainnya, pembangunan perekonomian desa agar makmur (thriving), dan kehidupan yang lebih baik bagi keluarga petani dan 70 Baehaki Suherlan Effendi komunitas pertanian pada umumnya. Hal ini baru akan terwujud pada beberapa dekade mendatang karena pertanian berkelanjutan sampai saat ini belum memiliki model atau alternatif dalam hubungannya dengan pertanian yang ekonomis yang dapat dirujuk (Earles 2002). Pengembangan PHT dalam pertanian berkelanjutan didasari oleh terjadinya resistensi hama terhadap insektisida, ledakan hama sekunder, dan pencemaran lingkungan akibat pemakaian insektisida. Di lain pihak, pengembangan pertanian berkelanjutan didasari oleh munculnya gerakan pertanian organik pada tahun 1920 dan 1930-an. Gerakan ini menuntut perlunya pengkajian pengaruh pupuk sintetis terhadap kualitas tanah, penyediaan pangan bagi penduduk dunia yang tumbuhdramatis, dan revolusi hijau yang telah menyebabkan meningkatnya penggunaan varietas unggul yang responsif terhadap pupuk sintetis dan penggunaan pestisida secara tidak bijaksana dalam pengendalian organisme pengganggu tanaman (Ohmart 2002). Konsep pertanian berkelanjutan muncul akibat implementasi pertanian modern yang menurunkan kualitas sumber daya alam.
Pertanian modern dengan input tinggi mampu meningkatkan hasil tanaman, namun di sisi lain menimbulkan kerusakan lingkungan yang untuk memperbaikinya diperlukan biaya yang besar. Kerusakan lingkungan antara lain terlihat dari hilangnya permukaan tanah, pencemaran air, hilangnya biodiversitas, ketergantungan pada sumber daya yang tidak dapat diperbarui, meningkatnya biaya produksi dan jatuhnya harga hasil pertanian, menurunnya komunitas desa, dan makin banyaknya petani. Di Jalur Pantura, misalnya, telah terjadi pengurangan biodiversitas
serangga hama karena hilangnya serangga Thaia oryzicola dan Recilia dorsalis (Baehaki 2002). Hal ini akan mempengaruhi atau mengubah rantai makanan hama yang dikhawatirkan berpotensi merusak tanaman budi daya. PHT dalam pertanian berkelanjutan dalam proses produksinya sangat memperhatikan keadilan terhadap masyarakat, khususnya petani produsen dan konsumen. Oleh karena itu, perlu diterapkan ekolabel yang memberi penghargaan (rewarding) kepada petani yang telah berproduksi dengan benar. Juga perlu memperhatikan konsumen yang turut berkontribusi dalamp engembangan pertanian yang baik, memberi peluang kepada petani untuk membedakan sendiri pasar/tempat penjualan, dan bahkan bila perlu ada kontrak antara petani produsen dan pedagang. Penerapan ekolabel sangat dimungkinkan bila didasari oleh kesepakatan pemberian penghargaan kepada pihak yang terlibat, misalnya insentif bagi produsen yang telah berjasa dalam praktek pertanian yang baik. Di lain pihak, konsumen dapat menggunakan kekuatan daya belinya dalam mempengaruhi praktek produsen, dan pengembang (developer) dapat pula menyusun suatu agenda ekolabel antara produsen dan konsumen. Mereka tentu diharapkan mengerti dan mampu mempraktekkan konsep PHT dalam pertanian berkelanjutan setelah mendengar, melihat, dan merasakan betapa pentingnya
kehidupan di masa mendatang.

ALTERNATIF KEBIJAKAN IMPLEMENTASI PHT DALAM PRAKTEK PERTANIAN YANG BAIK MENUJU PERTANIAN BERKELANJUTAN
PHT mempunyai dampak yang besar terhadap produksi pertanian manakala dalam pelaksanaannya ada kekeliruan, seperti penggunaan pestisida yang sangat toksik, residu di atas batas maksimum residu (BMR), dan pencemaran lingkungan, yang pada akhirnya merusak kesehatan masyarakat. Alternatif kebijakan implementasi PHT untuk mencapai praktek pertanian yang baik menuju pertanian berkelanjutan diuraikan berikut ini.

Pemilihan Varietas Tahan dan Hemat Energi
Keberlanjutan pertanian antara lain ditentukan oleh penggunaan varietas tahan hama penyakit dan hemat energi. Usaha untuk menghasilkan varietas yang hemat energi di antaranya adalah dengan mengubah tipe tanaman C3 menjadi C4, atau mengubah arsitektur tanaman menjadi lebih produktif, misalnya padi tipe baru dengan anakan sedikit dan bentuk daun yang memiliki kemampuan lebih tinggi untuk berfotosintesis sehingga dapat berproduksi lebih tinggi (Cantrell 2004). Dalam memilih varietas yang akan ditanam, nilai tambah produksi dan pemasaran juga perlu diperhitungkan. Hal ini penting artinya karena setiap varietas mempunyai karakter yang berbeda; ada yang cocok untuk dibuat bihun, beras kristal, nasi goreng, dan sebagainya. Dalam praktek pertanian yang baik, petani perlu dibimbing dalam memilih varietas yang tidak rakus hara, hemat air, tahan hama dan penyakit, dan berproduksi normal di mana pun ditanam. Ini penting artinya agar mereka tidak menggunakan input secara berlebihan, baik pupuk, air maupun pestisida, sebagaimana yang dikehendaki oleh kaidah praktek pertanian yang baik menuju keberlanjutan sistem produksi. Dalam kesempatan ini dianjurkan kepada para pemulia tanaman untuk menyusun program perakitan varietas padi yang hemat energi, tahan hama dan penyakit, dan berproduksi normal di mana pun ditanam. Paradigma baru pemuliaan tanaman ini seyogianya dapat dijabarkan ke dalam rencana strategis penelitian padi nasional. Pembentukan varietas padi tahan hama penyakit dan hemat energi sesuai dengan dinamika paradigma pembentukan varietas unggul baru dari zaman ke zaman.

Teknologi Pengendalian Hama secara Hayati
Pengendalian hayati secara inundasi adalah memasukkan musuh alami dari luar dengan sengaja ke pertanaman untuk mengendalikan hama. Inundasi yang dapat dilakukan adalah penggunaan cendawan Beauveria bassiana dan Metarhizium anisopliae sebagai agens hayati. Efektivitas biakan B. bassiana terhadap wereng coklat mencapai 40% (Baehaki et al. 2001). Cendawan ini selain dapat mengendalikan wereng coklat, juga dapat digunakan untuk mengendalikan walang sangit (Tohidin et al. 1993), Darna catenata (Daud dan Saranga 1993), dan lembing batu (Caraycaray 2003). Formulasi cendawan M. anisopliae dapat menurunkan populasi hama sampai 90%. Pengendalian hama secara biodynamic dengan memanfaatkan agens pengendali hayati terus meningkat, terutama oleh petani alumni SLPHT. Oleh karena itu perlu pembinaan dalam rangka pemberdayaan petani alumni SLPHT yang telah terhimpun dalam wadah atau organisasai yang mengembangkan usaha-usaha penerapan PHT. Organisasi yang telah ada antara lain adalah Paguyuban Petani PHT, Ikatan 72 Baehaki Suherlan Effendi Petani PHT Indonesia, Pos IPAH (Pos Pelayanan Agens Hayati, Sumatera Barat), Puspahayati (Pusat Pengembangan Agens Hayati, Jawa Tengah), dan PPAH (Pusat Pelayanan Agens Hayati, Jawa Timur).

Pergiliran Varietas Antar Musim
Hama tanaman padi tidak akan meledak sepanjang musim dan peningkatan populasinya hanya terjadi pada musim hujan. Pada musim kemarau, populasi hama, misalnya wereng, cenderung rendah, kecuali pada musim kemarau yang banyak hujan atau di daerah cekungan. Pergiliran varietas berdasarkan gen ketahanan yang terkandung pada tanaman padi untuk menghadapi tingkat biotipe wereng coklat. Pada daerah wereng coklat biotipe 1, pertanaman padi diatur dengan menanam varietas yang mempunyai gen tahan Bph1, bph2 dan Bph3 pada musim hujan. Pada musim kemarau dapat ditanam varietas padi yang tidak mempunyai gen tahan. Pergiliran varietas pada daerah wereng coklat biotipe 2 dilakukan dengan menanam varietas yang mempunyai gen tahan bph2 dan Bph3 pada musim hujan. Pada musim kemarau ditanam varietas yang mempunyai gen Bph1. Pergiliran varietas pada daerah wereng coklat biotipe 3 dilakukan dengan menanam varietas yang mempunyai gen tahan Bph1+ dan Bph3 pada musim hujan. Pada musim kemarau ditanam varietas dengan gen tahan Bph1 dan bph2. Pengaturan pertanaman di dalam musim juga diperlukan untuk menangkal serangan wereng coklat dan penggerek batang padi, yaitu pada awal musim hujan menanam varietas tahan yang berumur pendek dan pada pertengahan musim sampai akhir musim hujan menanam varietas yang tidak tahan ataupun tahan wereng coklat dan berumur panjang.

Teknologi Pengendalian Hama Padi dengan Sistem Integrasi Palawija pada Pertanaman Padi (SIPALAPA)
Para ahli agroekologi sedang mengenalkan intercropping, agroforestry, dan metode diversifikasi lainnya yang menyerupai proses ekologi alami (Alteri 2002). Hal ini penting artinya bagi keberlanjutan kompleks agroekosistem. Pengelolaan agroekologi harus berada di garis depan untuk mengoptimalkan daur ulang nutrisi dan pengembalian bahan organik, alir energi tertutup, konservasi air dan tanah, serta keseimbangan populasi hama dan musuh alami. Hama dan penyakit tanaman padi juga dapat dikendalikan berdasarkan agroekologi, antara lain dengan sistem integrasi palawija pada pertanaman padi (SIPALAPA). Sistem ini berupa pertanaman polikultur, yaitu menanam palawija di pematang pada saat ada tanaman padi. SIPALAPA dapat menekan perkembangan populasi hama wereng coklat dan wereng punggung putih. Hal ini disebabkan adanya predator Lycosa pseudoannulata, laba-laba lain, Paederus fuscifes, Coccinella, Ophionea nigrofasciata dan Cyrtorhinus lividipennis yang mengendalikan wereng coklat dan wereng punggung putih. Demikian juga parasitasi telur wereng oleh parasitoid Oligosita dan Anagrus pada pertanaman SIPALAPA lebih tinggi daripada pertanaman padi monokultur. Penerapan teknologi SIPALAPA dapat meningkatkan keanekaragaman sumberdaya hayati fauna dan flora (biodiversitas). Penanaman kedelai atau jagung pada pematang sawah terbukti dapat memperkaya musuh alami, mempertinggi dinamika dan dialektika musuh alami secara dua arah antara tanaman palawija dan padi. Dalam praktek pertanian yang baik, pada pasal 13.b disebutkan bahwa keberhasilan usaha tani terkait dengan upaya peningkatan keanekaragaman hayati melalui konservasi lahan (EUREP 2001). Hal ini dapat diaktualisasikan melalui aktivitas kelompok tani dengan menghindari kerusakan dan deteriorasi habitat, memperbaiki habitat, dan meningkatkan keanekaragaman hayati pada lahan usaha tani.

Perbaikan Teknik Budi Daya
Perbaikan teknik budi daya merupakan alternatif dalam melindungi tanaman, menekan perkembangan hama, dan memudahkan berkembangnya musuh alami. Penggunaan bahan organik dan sisa-sisa tanaman dalam budi daya padi dapat meningkatkan perkembangan serangga netral, serangga turis, serangga pemakan bangkai (scavenger), dan serangga pemakan sisa bahan organik (detritus). Serangga-serangga tersebut masuk ke dalam rantai makanan predator seperti laba-laba, P. fuscifes, Coccinella, dan Paedonia nigrofasciata yang berguna untuk menekan hama tanaman padi. Penggunaan pupuk kimia-N secara berlebihan selain meningkatkan populasi hama wereng, juga mengurangi keuntungan usaha tani padi dan merusak lingkungan. Oleh karena itu, pemberian pupuk yang disesuaikan dengan kebutuhan tanaman merupakan salah satu cara dalam menekan perkembangan hama penyakit. Teknologi bagan warna daun (BWD) yang dikembangkan oleh IRRI merupakan terobosan dalam meningkatkan efisiensi pemupukan karena penggunaan pupuk nitrogen (urea) disesuaikan dengan kebutuhan tanaman. Badan Litbang Pertanian juga telah mengembangkan teknologi pemupukan P dan K berdasarkan status hara tanah.

Pengendalian Berdasarkan Manipulasi Musuh Alami
Pengendalian hama berdasarkan manipulasi musuh alami dimaksudkan untuk memberikan peranan yang lebih besar kepada musuh alami, sebelum memakai insektisida. Pada prinsipnya musuh alami akan selalu berkembang mengikuti perkembangan hama. Selama musuh alami dapat menekan hama maka pengendalian dengan bahan kimia tidak diperlukan karena keseimbangan biologi sudah tercapai. Namun bila perkembangan musuh alami sudah tidak mampu mengikuti perkembangan hama, artinya keseimbangan biologi tidak tercapai, maka diperlukan taktik pengendalian yang lain, termasuk penggunaan bahan kimia. Teknologi pengendalian wereng coklat menggunakan ambang kendali berdasarkan manipulasi musuh alami dapat mengurangi pemakaian insektisida dan meningkatkan pendapatan (Baehaki et al. 1996). Teknologi ini diawali dengan pemantauan pada pertanaman untuk menentukan ambang ekonomi wereng terkoreksi musuh alami dengan menggunakan formula Baehaki (1996). Insektisida yang direkomendasikan dapat digunakan untuk pengendalian hama jika ambang ekonomi terkoreksi yang ditentukan telah terlampaui. Pengendalian hama berdasarkan manipulasimusuh alami menghemat penggunaan insektisida 33-75%, meskipun pada 74 Baehaki Suherlan Effendi musim hujan dengan kelimpahan hama wereng cukup tinggi. Dengan cara ini, hasil padi di tingkat petani meningkat 36% dengan peningkatan keuntungan 53,7%. Ambang ekonomi bukan harga yang tetap, tetapi berfluktuasi bergantung pada harga gabah dan pestisida. Bila harga gabah meningkat maka ambang ekonomi akan turun dan sebaliknya, tetapi bila harga insektisida naik maka ambang ekonomi akan naik dan sebaliknya.

Teknologi Pengendalian Hama Berdasarkan Ambang Ekonomi
Tidak semua hama dapat diformulasikan teknologi pengendaliannya berdasarkan musuh alami karena terbatasnya pengetahuan tentang korelasi perkembangan musuh alami dengan perkembangan suatu hama. Bagi hama yang belum ada teknologi pengendaliannya berdasarkan perkembangan musuh alami, dapat digunakan teknologi berdasarkan ambang ekonomi tunggal atau ambang ekonomi ganda. Di lapangan, adakalanya pertanaman padi diserang oleh lebih dari satu macam hama sehingga diperlukan teknologi yang mampu mengendalikan lebih dari satu jenis hama. Untuk itu, pengendalian dapat berpatokan pada ambang ekonomi hama ganda. Formula pengendalian hama berdasarkan ambang ekonomi ganda pada fase vegetatif untuk wereng coklat-wereng punggung putih mengikuti pola 9-0-14, sedangkan pada fase reproduktif mengikuti pola 18-0-21. Ambang ekonomi ganda sundep-ulat grayak pada fase reproduktif mengikuti pola 9-0-15, sundep-hydrellia pada fase vegetatif mengikuti pola 6-0-19, dan sundep-pelipat daun pada fase vegetatif mengikuti pola 9-0-13 (Baehaki dan Baskoro 2000). Pengendalian dengan insektisida dilakukan setelah populasi hama atau kerusakan tanaman mencapai ambang ekonomi ganda yang telah ditentukan.

Minimalisasi Residu Pestisida
Penggunaan insektisida merupakan taktik dinamis yang dilaksanakan dalam kurun waktu pertumbuhan tanaman bila teknik budi daya dan pengendalian hayati gagal menekan populasi hama di bawah ambang ekonomi. Penentuan ambang ekonomi sangat penting sebagai dasar pengambilan keputusan pengendalian. Bhat (2004) menyebutkan bahwa ambang ekonomi merupakan komponen yang sangat penting dalam PHT. Pengendalian hama berdasarkan ambang ekonomi juga bertujuan untuk mengatasi penggunaan bahan kimia secara berlebihan yang berdampak terhadap tingginya residu pestisida pada produk pertanian dan pencemaran lingkungan.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1.       PHT merupakan pengelolaan hama secara ekologis, teknologis, dan multidisiplin dengan memanfaatkan berbagai taktik pengendalian yang kompatibel dalam satu kesatuan koordinasi sistem pengelolaan pertanian berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.
2.       Implementasi PHT memerlukan dukungan dari berbagai pihak, termasuk petani, peneliti, pemerhati lingkungan, penentu kebijakan, dan bahkan politisi. Implementasi PHT dapat mendukung keberlanjutan pengembangan pedesaan dengan mengamankan suplai air dan menyediakan makanan sehat melalui praktek pertanian yang baik.
3.       PHT mengakomodasikan teknologi ramah lingkungan dengan pendekatan hayati, tanaman inang tahan, hemat energi, budi daya, dan aplikasi pestisida berdasarkan ambang ekonomi. Bahan kimia yang digunakan harus sesuai dengan persyaratan pengelolaan yang diatur dengan undang undang.
4.       PHT harus mengembangkan diversitas agroekosistem yang menguntungkan dari pengaruh integrasi antartanaman sehingga terjadi interaksi dan sinergisme, serta optimalisasi fungsi dan proses ekosistem, seperti pengaturan biotik yang merusak tanaman, daur ulang nutrisi, produksi dan akumulasi biomassa. Hasil akhir dari pola agroekologi adalah meningkatnya ekonomi dan keberlanjutan agroekologi dari suatu agroekosistem.
5.       Pendekatan pertanian berkelanjutan untuk pengelolaan hama, yang meliputi kombinasi pengendalian hayati, kultur teknis, dan pemakaian bahan kimia secara bijaksana, merupakan alat dalam merintis pertanian ekonomis, pelestarian lingkungan, dan menekan risiko kesehatan. PHT, GAP, dan pertanian berkelanjutan mengarah kepada keselarasan lingkungan, secara ekonomi memungkinkan dipraktekkan, serta memperhatikan keadilan masyarakat (socially equitable).

Saran
Semua produk pertanian harus dapat ditelusuri sampai ke lahan petani di mana produk itu dihasilkan. Catatan harian usaha tani (farm record keeping) ditempatkan pada pasal paling awal, yaitu petani harus menyimpan dan menjaga catatan yang ada untuk membuktikan bahwa semua aktivitas produksi telah sesuai dengan standar. Hal ini untuk membantu menelusuri riwayat produk dari lahan produsen ke konsumen. Catatan harian usaha tani memuat lokasi lahan, jenis tanah, serta varietas yang ditanam, dan cara pemuliaannya (konvensional, hibrida, PTB, hasil tenaga atom, atau hasil rekayasa genetik-transgenik). Demikian pula perlu dicatat pupuk yang digunakan, kapan, dan takarannya, serta bahan kimia yang dipakai, waktu aplikasi, dan untuk hama atau penyakit apa saja, waktu panen, pengemasan dan transportasi. Catatan tersebut menjadi sangat penting untuk penelusuran bila suatu produk dibutuhkan konsumen karena kualitasnya, atau sebaliknya produk tersebut mengganggu kesehatan konsumen sehingga konsumen dapat mengklaim produsennya.

PENUTUP
PHT dalam praktek pertanian yang baik menuju pertanian berkelanjutan bukan segalanya, namun praktek pertanian yang baik menuju pertanian berkelanjutan tanpa PHT dapat melemahkan kesinambungan sistem produksi. Hal ini sebenarnya telah lebih awal diisyaratkan oleh Allah SWT dengan firman-Nya dalam Al Qur’an: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut yang disebabkan oleh perbuatan manusia, sehingga Allah menimpakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (Ar Ruum 30:41). “Makan dan minumlah rizki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi berbuat kerusakan” (Al Baqarah 2:60). “Dan apabila dia berpaling (dari mukamu) ia berjalan di muka bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanaman, ternak, sedangkan Allah tidak menyukai kebinasaan” (Al Baqarah 2:205).

DAFTAR PUSTAKA
Alteri, M.A. 2002. Agroecology: Principles and strategies for designing sustainable farming system. Sustainable Agriculture Network. Sustainable Agriculture Research and Education (SARE) Program. Sustainable Agriculture Publications, 210 UVM, Hill Building, Burlington, VT 05405-0082. 7pp.
Anonymous. 2002a. Integrated pests management, entomology, plant pathology, and soil science. Host plant resistance.
Anonymous. 2002b. Integrated pests management, entomology, plant pathology, and soil science. Legal control (regulatory methods).
Anonymous. 2002c. Integrated pests management, entomology, plant pathology, and soil science. Biological control.
Anonymous. 2002d. Integrated pests management, entomology, plant pathology, and soil science. Chemicals pesticides, the good, the bad, and the ugly.
Baehaki S.E. 1986. Dinamika populasi wereng coklat Nilaparvata lugens Stal. Edisi Khusus No1. Wereng Coklat. Baehaki S.E. 1992. Teknik pengendalian wereng coklat terpadu. hlm. 39-49.
Baehaki S.E dan A. Hasanuddin. 1995. Situasi wereng coklat dan tungro di beberapa daerah Jawa pada 10 tahun terakhir. Seminar Balai Penelitian Tanaman Pangan Sukamandi. 30 hlm.
Baehaki S.E. 1996. Formula pengendalian wereng coklat menggunakan ambang ekonomi berdasar musuh alami. Suatu sintesis data mendasari rasionalisasi pengendalian hama secara kuantitatif pada tanaman padi. Unpublished. 5 hlm.
Baehaki S.E., P. Sasmita, D. Kertoseputro, dan A. Rifki. 1996. Pengendalian hama berdasar ambang ekonomi dengan memperhitungkan musuh alami serta analisis usaha tani dalam PHT. Temu Teknologi dan Persiapan Pemasyarakatan Pengendalian Hama Terpadu. Lembang. 81 hlm.
Baehaki S.E. 1999. Strategi pengendalian wereng coklat. hlm. 54-63. Prosiding Hasil Penelitian Teknologi Tepat Guna Mendukung Gema Palagung. Balai Penelitian Tanaman Padi, Sukamandi.
Baehaki S.E dan Baskoro. 2000. Penetapan ambang ekonomi ganda hama dan penyakit pada varietas padi berbeda umur masak di pertanaman. Seminar Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Jakarta.
Baehaki S.E., Kartohardjono, dan Nurhayati. 2001. Teknik perbanyakan Beauveria bassiana pada media padat dan efektivitas umur biakan terhadap wereng coklat. hlm. 146-153. Prosiding Simposium Pengendalian Hayati Serangga. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Fak. Pertanian Universitas Padjadjaran, DiStrategi rektorat Perlindungan Tanaman Pangan, dan PRI-Cabang Bandung.
Baehaki S.E. 2002. Perbaikan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) Berdasar Pemahaman Biodiversitas Arthropoda pada Berbagai Pola Pertanaman Padi. Seminar Proyek/Bagian Proyek Pengkajian Teknologi Pertanian Partisipatif. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Jakarta.
Biro Pusat Statistik. 1991. Luas dan intensitas serangan jasad pengganggu padi dan palawija di pulau Jawa tahun 1991. Biro Pusat Statistik, Jakarta.
Budianto, J. 2002. Tantangan dan peluang penelitian dan pengembangan padidalam perspektif agribisnis. hlm. 1-19. Dalam Kebijakan Perberasan dan Inovasi Teknologi Padi. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Bogor.
Caraycaray, M.D.B. 2003. More farmers use innovative chemical-free methods to control pest in rice. Phil. Rice Newsletter 16(4).
Daud, I.D. dan A.P. Saranga. 1993. Efektivitas lima konsentrasi suspensi spora Beauveria bassiana Vuill. Terhadap mortalitas tiga instar larva Darna catenata Snellen (Lepidoptera: Limacodidae). hlm. 125-134. Prosiding Symposium Patology. Serangga I. PEI Cabang Yogyakarta-Fak. Pertanian UGM, dan Program Nasional PHT/Bappenas. Departemen Pertanian. 2003. Kebijakan dan Strategi Nasional Perlindungan Tanaman dan Kesehatan Hewan. Departemen Pertanian, Jakarta. 140 hlm.
Earles, R. 2002. Sustainable agriculture: An introduction. ATTRA-National Sustainable Agriculture Information service.
EUREP. 2001. EUREPGAP Protocol for Fresh Fruit and Vegetables. English version. Copyright: EUREPGAP c/o FoodPlus Gmbh, Cologne. Germany. 15 p.
Frost, M. 2001. Quality Criteria and Standards. Berlinickestr, Berlin, Germany. p. 113-121. Matthias.Frost@bvl. bund.de
Kenmore, P.E. 1996. Integrated pest management in rice. p. 76-97. In G.J. Persley (Ed.). Biotechnology and Integrated Pest Management. CAB International, Cambridge.
Untung, K. 2000. Pelembagaan konsep pengendalian hama terpadu Indonesia. Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia 6(1): 1-8.
Waage, J. 1996. Integrated pest management and biochemistry: An analysis of their potential. p. 36-47. In G.J.
Persley (Ed.). Biotechnology and Integrated Pest Management. CAB International, Cambridge.